saya hanyalah manusia biasa, yg banyak dipenuhi oleh salah dan khilaf, oleh karena itu jikalau ada postingan saya yg kurang berkenan di hati saudara pembaca sekalian, mohon dimaafkan lahir bathin, karena kebenaran hanya berasal dari Allah, dan kesalahana sepenuhnya ada diri saya...

Senin, 31 Januari 2011

focus

kata teman saya "kamu harus fokus!" dalam merenung dalam hati saya, fokus bukankah harus juga di dasari dgn keinginan kuat yg membaja? tidak hanya mudah menggelontorkan kata-kata fokus di lidah saja.

pulang dari kantor pun, kadang saya di buat termenung, utk apa kehidupan manusia jika di dalam dirinya tidak memiliki sifat fokus yg membaja, kadang pekerjaan yg satu belum selesai dikerjakan justru mengerjakan pekerjaan lainnya. apakah ini yg dinamakan fokus.

di balik dapur, istri saya sedang memasak penganan utk si mata wayang anak-anak kami. hal lainnya, bangun di pagi hari, aktivitas rutin yg menjemukan kadang kala membuat kegiatan serasa tidak bergairah yg akhirnya timbul kebosanan di dalam dada.

fokus kata teman saya, bukankah kita saat ini sedang fokus dgn apa yg kita kerjakan. fokus makan, fokus tidur, fokus mengerjakan hal-hal kebiasaan normal utk menunjang peri kehidupan kita di dunia; tidur, bangun, mandi, gosok gigi, sarapan, bekerja (bagi yg sudah memiliki pekerjaan), sekolah (bagi yg masih bersekolah) lantas pulang dari pekerjaan dan sekolahan, mandi lagi, makan lagi, dan akhirnya tidur lagi???

itukah fokus yg dimaksud oleh teman saya? ternyata bukan! fokus maksud teman saya itu adalah fokus terhadap impian. memang rutinitas yg kita kerjakan sering kali kita anggap sebagai fokus menurut persepsi kita. tetapi pihak lain melihatnya hal itu bukanlah fokus yg sesungguhnya.

bagaimana mungkin keadaan yg kita inginkan ini adalah kehendak yg kita inginkan jauh sebelum kita menginginkannya? tidak! takdir bukan kita yg punya (tapi Allah) tapi bukankah takdir itu pula yg membuat diri kita dapat merubah keadaan menjadi yg kita inginkan.

percaya terhadap takdir pun termasuk rukun iman yg harus di jalankan, tapi bukan karena takdir pula kita diharuskan bersantai-santai ria mengharap uang jatuh dari langit menimpa atap rumah kita. bukankah Nabi mengajurkan utk merubah keadaan yg kurang baik ke keadaan yg lebih baik dari sebelumnya?

fokus, mungkin kita harus fokus terhadap impian kita, bukan fokus yg menghadirkan rutintias serta aktivitas normatif dlm keseharian kita, akan tetapi fokus yg menyala-nyala, membawa semangat di dalam kehidupan kita agar lebih bergairah menyambut surga. tentunya menghindari dampak neraka dgn menjauhi segala laranganNya...

Hahaha... jangan terpengaruh tulisan di atas.

Kamis, 20 Januari 2011

Pluralisme: Kerancuan Istilah dan Pemahaman

Written by Anis Malik Thaha
Perdebatan dan kontroversi tentang masalah Pluralisme kembali menghangat di Indonesia. Meskipun masalah ini sudah banyak ditulis dan didiskusikan, pro-kontra itu terus saja berlangsung. Dalam mencermati hiruk-pikuk wacana "Pluralisme" pada umumnya, dan "Pluralisme Agama" khususnya, yang tengah marak di negeri kita pada dasawarsa pertama abad ke-21 ini; pun juga dalam berbagai kesempatan mengisi berbagai workshop, seminar dan konferensi, khusus mengenai isu dan wacana tersebut, saya merasa gamang, ada sesuatu yang sangat mengusik nalar kesadaran.

Bagaimana tidak? Wacana ini sudah sedemikian melebar dan meluas, serta merambah ke berbagai ranah, dan disahami oleh berbagai kalangan – mulai dari politisi, budayawan, agamawan sampai akademik, tapi topik utama yang diwacanakan ini nyaris tidak pernah benar-benar diupayakan pendefinisiannya secara teknis atau sesuai dengan yang dimaksudkan oleh para ahlinya. Padahal inilah langkah metodologis awal yang mesti dilakukan oleh siapa pun yang interest dan berkepentingan dengan isu ini. Lebih dari itu, sebetulnya masalah ini adalah masalah tuntutan logis belaka yang niscaya, yang jika diabaikan maka secara tak terhindarkan akan menciptakan tidak saja kerancuan atau kebingungan (confusion), tapi juga pada akhirnya mengaburkan dan bahkan menyesatkan (misleading).

Para ulama kita terdahulu dari berbagai bidang dan disiplin ilmu ternyata sangat peka dan menyadari betapa krusialnya problem definisi ini sebelum mereka mengupas bahasan-bahasan di bidang masing-masing secara detail. Para fuqaha', misalnya, begitu sistematis dalam mengupas masalah-masalah fiqh, dimulai dengan definisi-definisi yang gamblang secara lughawy maupun teknisnya: apa itu taharah, wudhu, tayammum, mandi, dsb. Tapi sayang sekali, dewasa ini model dan tradisi semacam ini tampak banyak ditinggalkan oleh kalangan kita, khususnya dalam hal berwacana Pluralisme Agama.

Entah karena sebab oversight atau apa, yang jelas pada hakekatnya tidak banyak di kalangan kita yang mencoba mengerti atau memahami, apalagi mempersoalkan problem definisi ini dengan betul dan bijak. Seakan-akan istilah Pluralisme Agama ini sudah cukup jelas dan, oleh karenanya, boleh taken for granted. Padahal, istilah "pluralisme" itu jelas-jelas istilah (baca: ideologi) pendatang yang merangsek ke alam sadar dan di-bawah-sadar kita bersama-sama dengan istilah-istilah dan ideologi-ideologi asing yang lain, seperti democracy, humanism, liberalism, dsb. yang tentu saja tidak bisa kita maknai seenak kita atau menurut "selera" dan asumsi kita.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kebanyakan orang yang ditokohkan di kalangan kita beranggapan secara simplistis bahwa "pluralisme adalah toleransi" atau "pluralisme agama adalah toleransi agama". Fakta ini dapat dilihat daripada ingar-bingarnya reaksi dan respon yang cenderung "emosional" terhadap fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dikeluarkan pada tahun 2005 tentang hukum haramnya Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (atau yang dikenal dengan SIPILIS), dan juga terhadap resolusi Muzakarah Ulama Se-Malaysia, 2006, di Negeri Perak, Malaysia, yang dibacakan oleh Mufti Perak, Datuk Dr. Harussani, yang menegaskan hukum yang sama dengan fatwa MUI. Yang menyedihkan, anggapan atau asumsi simplistik ini tidak hanya terbatas pada kalangan "awam" (yang memang tak terdidik secara akademis dalam bidang ini), tapi hatta kalangan para tokoh atau yang ditokohkan yang memang spesialisasi akademiknya di bidang ini pun tampak begitu over-confident dengan pemahamannya yang simplistik.

Salah satu contoh yang paling konkrit adalah sebuah Disertasi Doktor  di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, yang kemudian diterbitkan pada awal tahun 2009 yang lalu dengan judul Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur'an. Dalam buku ini tak nampak ada upaya yang serius dari pengarangnya untuk mendiskusikan definisi teori atau faham Pluralisme Agama yang menjadi topik utama bahasannya, malah terjebak pada pengertian yang keliru di atas tadi. Pembaca yang cermat tidak perlu bersusah-payah melongok kedalamnya, dari judul saja sudah cukup untuk mengetahui apa gerangan yang dimaksudkan oleh pengarangnya tentang faham Pluralisme Agama ini, yang tiada lain adalah "toleransi agama".

Tapi meskipun demikian, anehnya buku ini mendapat sambutan yang luar biasa oleh media massa kita, dan juga sanjungan dan pujian yang sangat berlebihan dari sederet nama orang-orang yang ditokohkan di masyakarat Indonesia dengan latar-belakang yang beragam yang jumlahnya lebih dari selusin. Hal ini semakin membuktikan betapa kacaunya dunia pemikiran dan akademik di kalangan kita.

Anggapan bahwa "pluralisme agama adalah toleransi agama" adalah anggapan subyektif yang jelas-jelas ditolak oleh para pakar dan penganjur pluralisme sendiri. Diana L. Eck, direktur The Pluralism Project di Universitas Harvard, Amerika Serikat, misalnya, dalam penjelasan resminya yang berjudul "What is Pluralism?" dan diulangi dalam "From Diversity to Pluralism" (masing-masing bisa diakses dan dibaca pada http://pluralism.org/pluralism/what_is_pluralism.php, dan http://pluralism.org/pluralism/essays/from_diversity_to_pluralism.php), menyuguhkan empat karakteristik utama untuk mendefinisikan faham ini secara detail. Dia menyatakan salah satunya bahwa "pluralism is not just tolerance," yang bermakna "pluralisme bukanlah sekedar toleransi." Pernyataan yang lebih kurang sama juga dia sampaikan dalam keynote addressnya yang berjudul "A New Religious America: Managing Religious Diversity in a Democracy: Challenges and Prospects for the 21st Century" pada MAAS International Conference on Religious Pluralism in Democratic Societies, di Kuala Lumpur, Malaysia, Agustus 20-21, 2002. Lebih lanjut ia berkata dalam keynote addressnya ini:

I would propose that pluralism goes beyond mere tolerance to the active attempt to understand the other... Although tolerance is no doubt a step forward from intolerance, it does not require new neighbors to know anything about one another. Tolerance comes from a position of strength. I can tolerate many minorities if I am in power, but if I myself am a member of a small minority, what does tolerance mean? ... a truly pluralist society will need to move beyond tolerance toward constructive understanding... Tolerance can create a climate of restraint, but not a climate of understanding. Tolerance is far too fragile a foundation for a religiously complex society, and in the world in which we live today, our ignorance of one another will be increasingly costly. (penegasan dari penulis)

(Saya usulkan bahwa pluralisme itu lebih dari sekadar toleransi menjadi upaya aktif memahami (orang/kelompok)yang lain… Meski tak diragukan lagi toleransi itu selangkah lebih maju daripada intoleransi, ia tidak menuntut orang-orang yang bertetangga baru untuk tahu sedikit pun antara satu dengan lainnya. Toleransi muncul dari pihak yang kuat posisinya. Saya dapat toleran dengan banyak kelompok minoritas jika saya kuat (berkuasa), tapi jika saya sendiri dari kelompok minoritas, apa artinya toleransi? … suatu masyarakat yang betul-betul pluralis perlu melampaui toleransi menuju pemahaman yang konstruktif… Toleransi dapat menciptakan iklim pengekangan-diri, tapi bukan iklim (saling) memahami. Toleransi adalah pondasi yang sangat rapuh dan rentan bagi sebuah masyarakat yang beragam agama, dan di dunia dimana kita hidup sekarang ini, ketidak-tahuan kita antara satu dengan lainnya ongkosnya (yang harus dibayar) akan semakin mahal).

Jadi sangat jelas sekali apa yang dimaksudkan dengan pluralisme oleh kaum pluralis sejati. Mereka tidak mengingkari pentingnya toleransi, "There is no question that tolerance is important," kata Eck dalam makalahnya yang lain ("From Diversity to Pluralism"), tapi segera setelah itu ia tambahkan: "but tolerance by itself may be a deceptive virtue" (tetapi toleransi itu sendiri boleh jadi menjadi suatu budi-pekerti/kebaikan yang menipu). Pandangan miring terhadap toleransi ini sebetulnya sudah mulai dilantunkan kalangan pemikir pluralis semenjak tahun 60-an pada abad ke-20 yang lalu.

Sebut saja, misalnya, Albert Dondeyne yang dalam bukunya, Faith and the World, yang terbit di Dublin oleh Gill and Son pada tahun 1963, menulis pada halaman 231: "Let us note that was what then called tolerance would be considered today as the expression of systematic intolerance. In other words, tolerance was then almost synonymous with moderate intolerance." (Mari kita catat bahwa apa yang dahulu dinamakan toleransi, kini telah dianggap sebagai sebuah ekspresi ketidaktoleranan yang sistematis. Dalam istilah lain, toleransi dengan begitu hampir sinonim dengan intoleransi yang moderat).

Bahkan sebelumnya Arnold Toynbee, seorang sejarawan Inggris terkemuka, dalam bukunya, An Historian's Approach to Religion, yang terbit di London oleh Oxford University Press, tahun 1956, sudah mewanti-wanti bahwa "toleransi tidak akan memiliki arti yang positif," bahkan "tidak sempurna dan hakiki, kecuali apabila manifestasinya berubah menjadi kecintaan." (hal. 251)

Yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa bagi kalangan pluralis sejati, Pluralisme pada umumnya dan Pluralisme Agama pada khususnya bukanlah toleransi sebagaimana yang jamak di(salah)fahami oleh kalangan pluralis. Penekanan Pluralisme lebih pada "kesamaan" atau "kesetaraan" (equality) dalam segala hal, termasuk "beragama".  Setiap pemeluk agama harus memandang sama pada semua agama dan pemeluknya.  Pandangan ini pada akhirnya akan menggerus konsep keyakinan "iman-kufur", "tauhid-syirik", dalam konsepsi Islam. 

Al-Quran jelas  menyebut orang mukmin sebagai "khairul bariyyah" (sebaik-baik makhluk), sedangkan orang kafir disebut "syarrul bariyyah" (seburuk-buruk makhluk).  Bahkan, al-Quran juga tidak menyetarakan antara orang shaleh dengan orang jahat (fasik).  Orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang taqwa. Maka, Islam punya konsep kesetaraan sendiri yang jelas berbeda dengan konsep kesetaraan kaum Pluralis Agama.

Karena itu, memang umat Islam harus sangat berhati-hati dalam mengadopsi satu istilah atau paham yang jika tidak berhati-hati akan dapat merusak keimanannya sendiri. Islam – sejak awal kelahirannya – sudah memiliki konsep yang jelas bagaimana memandang agama lain dan bagaimana berhubungan dengan pemeluk agama lain. Seharusnya konsep inilah yang digali dan dikembangkan, bukan justru mengadopsi konsep yang lahir dari masyarakat yang selama ratusan tahun tidak mengakui bahkan menindas keberagaman (pluralitas). (***)

Sabtu, 08 Januari 2011

BEDAH LIRIK : “Surga Dibawah Telapak Kaki Anjing”

BEDAH LIRIK

 

"Surga Dibawah Telapak Kaki Anjing"

 

 

Melihat banyaknya respons dari berbagai pihak, dan sepertinya ada celah untuk terperosok lebih dalam ke arah pemahaman yang buta akan lirik dari lagu ini, saya sebagai penulis lirik lagu tersebut, tergerak untuk menceritakan apa sebenarnya maksud dari lirik lagu tersebut, dan ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya, saya harus menjelaskan lirik dari lagu yang saya buat. Disini saya akan mengangkat beberapa kutipan pembahasan tentang hadits yang saya temukan, dan sedikit artikel dari kawan saya Riki. Hmmmmmmm…… Lets get it started.

 

Ada yang mengangkat lirik ini menjadi bahasan di salah satu milis, yang pada intinya mereka yang berdebat dalam milis ini setuju dengan inti lirik ini, tapi ada yang sedikit gusar karena dihubungkan dengan hadis nabi yang berbunyi "'al-jannatu tahta a'damil

umahat" artinya surga dibawah telapak kaki ibu. Berikut kutipan yang saya dapat dari internet :

------------------------------------------------ mulai

 

الجنة تحت أقدام الأمهات ، من شئن أدخلن ، و من شئن أخرجن

Surga berada di bawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasukannya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya

 

Hadits ini hadits maudhu' (palsu). Telah diriwayarkan oleh Ibnu Adi (I/325) dan juga oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu'afa dengan sanad dari Musa bin Muhammad bin Atha', dari Abul Malih, dari Maimun, dari Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu'anhu.. Kemudian al-Uqaili mengatakan bahwa hadits ini munkar. Bagian pertama dari riwayat tersebut mempunyai sanad lain, namun mayoritas rijal sanadnya majhul.

 

Dalam masalah ini, saya kira cukupi dengan riwayat yang di keluarkan oleh Imam Nasa'i dan Thabrani dengan sanad hasan, yaitu kisah seseorang yang datang menghadap Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam seraya meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau shalallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bertanya, Adakah engkau masih mempunyai ibu? Orang itu menjawab, Ya, masih. Beliaupun kemudian bersabda,

 

فالزمها فإن الجنة تحت رجليها

Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya (*)

---------------------------------------------------- selesai

 

Kutipan diatas, untuk memperjelas bersama, mana hadits yang sekiranya akan menjadi substansi pertanyaan saudara-saudara, jika pembahasan lirik ini diarahkan ke pelecehan sabda Nabi dsb. Hell fucking No. Read On …..

 

Kawan saya, Riki Paramitha, yang seorang karyawan di perusahaan ternama, memberikan satu kesempatan kepada lagu ini untuk diserap dan dicerna oleh orang yang kebetulan bukan metalheads, here it si :

 

 

---------------------------------------- mulai

 

Sebuah track metal "Surga di bawah Telapak kaki Anjing." Sebuah track yang belakangan jadi populer dan kontroversial karena pake acara di-banned segala. Saya sempat meminta pendapat 2 orang rekan saya (yang juga konsultan SAP, satu di Malaysia; satu di Singapore) untuk menilai track ini (kebetulan dua2nya ngerti Bahasa, dan dua2nya ngga ngerti metal. Jadi fair yah… :-P).

 

Pendapat dari konsultan SG :

"Ini adalah track yang dilatarbelakangi oleh kebencian yang sangat eksplisit. Kebencian tersebut begitu dalam, sehingga mengabaikan banyak hal di seputaran norma (norm) yang ada, terutama dalam bertutur. Terkesan hanya mencari aspek sensasi saja dengan brutalism yang ditampilkan; dan di lain pihak mencerminkan bahwa penulis dari track ini adalah seorang yang sangat radikal akan tetapi jauh dari kesan cerdas."

 

Pendapat dari konsultan MY :

"Penulis berusaha menampilkan fenomena sosial yang cukup sensitif; yaitu penggunaan nama agama (in the name of religion, in the name of God) untuk pembenaran beberapa tindakan yang justru berada di luar norma agama itu sendiri. Dan dalam hal ini secara praktek justru yang terjadi adalah pemerkosaan terhadap agama itu sendiri dan pemutarbalikan definisi antara 'mulia' dan 'hina.' Kalau semua sudah diputarbalikkan, maka surga tentunya berada di bawah telapak kaki anjing, bukankah begitu? Ini adalah sebuah kritik dengan cara yang satir, seperti yang biasa ditampilkan di teater2 kontemporer. Penulis track ini pastilah orang yang luar biasa cerdas dan brilian. Apakah dia seorang budayawan (man of culture) di Indonesia?"

 

Hah? Ternyata untuk hal yang relatif terukur seperti ini bisa menghasilkan 2 pendapat yang secara kontras berbeda. Padahal topiknya cukup sempit; hanya mengenai sebuah lirik; dan belum membahas masalah musikalitas. Tapi sudah menghasilkan 2 pendapat yang contrary different.

Apalagi kalau kita mau membahas mengenai hal2 yang bersifat infinity dan sangat tidak terukur seperti God, satan, heaven, & hell. (karena beyond rationality, dan tidak dapat dipecahkan dengan logika matematika atau logika empiris yang biasa dipakai di science). Dan tools serta basic logic yang dipakai oleh manusia pada umumnya belum dapat mencapai kesimpulan yang commonly agreed untuk hal ini. Jadi sangat tergantung dari persepsi, paradigm, sudut pandang/ perspektif.

Tony Sotello dkk di "…And Time Begins" mengkedepankan prinsip Fisika dan Generatio Spontanea untuk proses penciptaaan. Well, barangkali begitulah kesimpulan yang dihasilkan menurut pencarian Tony Sotello dkk. Respect for that.

 

Glen Benton & Dave Suzuki lebih sangar lagi. Dengan deskripsi pembantaian terhadap seseorang yang sedang beribadah, Glen bertanya "Where is Your God, Now?" Ada benarnya juga; intervensi Tuhan (Divine Intervention) terhadap kegiatan sehari2 memang susah didefinisikan.

 

Lord Ahriman dkk malah menampilkan keberpihakan atau sympathy for the devil lewat "Diabolis Interium." Kurang lebih sama dengan material yng ditampilkan Shagrath & friends di "The Serpentine Offerings." Dimana hal ini ada benarnya, kalau kita menilik sejarah masuknya ajaran Trinitas di jazirah Viking.

 

Nergal & his Polish terror squad malah konsisten di jalur ancient god/ paganism; dan malah punya agenda yang mirip eksperimen (research) untuk mencari pembenaran terhadap hal yang sedang dipelajarinya atau obsessed with. Well, barangkali begitulah 'konsep Tuhan' menurut Mr Nergal, kalau dilihat dari latar belakang ybs dan pergaulannya dengan orang2 seperti Krzysztoft Azarewicz.

 

Jadi semuanya dikembalikan ke persepsi masing2. Karena sesungguhnya kita semua dalam proses pencarian kok. Dan yang harus dihindari adalah kalau kita mulai merasa yang paling benar dan merasa lebih mulia karena pemahaman kita yang (menurut kita) lebih, terhadap Tuhan dan hal2 yang related dengan-Nya. Ini malah menyesatkan. Secara etika adalah salah, dan secara norma agama justru lebih salah lagi.

Agama dan praktek agama serta pengakuan terhadap eksistensi Tuhan adalah sebuah proses; dan bukanlah sebuah output. Output-nya mana dunk? Output-nya adalah tercermin dari tindakan kita sehari2. Kalau istighfar segudang, Shalat rajin, atau rajin kuliah minggu, tapi masih nyolong & banyak berbuat curang; yah artinya Surga berada di bawah telapak kaki anjing. Bukankah begitu?

 

----------------------------------------------- selesai

 

 

Tanpa banyak bicara lagi, sudah mulai terbukakah kawan-kawan, yang mungkin pernah terbersit, bahwa saya menghina sabda Rasulullah SAW ? Hell fucking no. Sama sekali tidak.

 

Sekali lagi, semua lirik yang saya ciptakan, adalah refleksi kritis saya atas apa yang terjadi di sekitar saya. Tentunya, bukan saya saja yang muak akan fenomena tolol ini, dimana orang berkoar-koar bertindak atas nama tuhan, tapi tingkah lakunya tidak mencerminkan orang yang mengedepankan ketuhanannya, yang mana semua agama tidak pernah memerintahkan tindakan kekerasan, penghancuran, pemaksaan apalagi membunuh dalam nama tuhan. Saat ini, jika kita terjun bebas ke dalam ranah bawah tanah musik Indonesia, baik itu Metal, Hardcore dan Punk sekaligus, kita akan melihat, mendengar protes mereka yang mungkin senada. Mungkin hanya momentum yang belum memungkinkan suara mereka untuk terdengar. Jadi, jangan kaget ketika gelombang protes dan penolakan atas kekerasan yang dilakukan atas nama agama yang diusung oleh berbagai ormas itu meledak melalui suara-suara parau mereka bersamaan dengan musik bising yang mereka usung. Kami sadar, bahwa kami adalah sekelompok kecil musisi, minoritas yang mungkin tidak layak untuk dipandang sebelah mata. But this is reality. Terlepas dari benar atau salah kami bertindak, adalah manusiawi kami mencari titik tolak perlawanan dalam bentuk apapun, walau sekecil apapun. And this is what we can do for our society. Hopefully we can do something bigger and bigger next time ….

 

Hormat untuk semua kalangan, yang telah memberikan perhatian terhadap lirik lagu ini, baik yang pro dan kontra. Junjung tinggi etika berdebat tanpa otot ….

Perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan dan menghancurkan.

 

 

Regards,

 

Doni

Funeral Inception

_______________________________________________________________________

 

SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI ANJING

 

Apa yang terbersit di otakmu – perlakukan tuhan seperti babu

Perintah sana dan perintah sini, menghela seperti kerbau

Mendikte dia dan mengarahkan seperti busur panah

Hormat dan pujimu yang kau tuangkan dalam doa yang mengiris

Ibadah yang tanpa cela Ibadah yang searah

Menuding moral penyebab kerusakan

Menghempaskan logika memuliakan nafsu belaka

Melangkah gagah dengan keserakahan …

 

Umbar nafsu gila tololmu – bercak dalam janji

Hancurkan tatanan, mengurai kuasamu

Kendalikan arah kemana angin akan berhembus

Sirnalah dosa sirnalah nista

 

Ledakan jiwa – yang bergolak disana

Mengiris harapan – menjadikan polusi

Cerai kan berai nurani – melumatkan visi

Tiada tersisa –terasa membakar !!

 

Surga yang kau cipta kini terbentang lega

Hati nurani yang terjagal hati nurani menggelepar

Infiltrasi kesesalan yang tersisa didalam hatimu

Gumam doa bersenandung bersama nista………………….

 

Berperanglah kepada sesamamu dan basmilah mereka

Dan Kepada siapakah tuhan kalian kan meratap

Persetan dengan keyakinan dan tuhanmu yang kau kebiri

 

Lead

 

Tonggak kebebalan religi

Kekalahan hati dan nurani

Takkan ada lagi naluri

Semua telah tewas kau basmi

 

Tak terkira perih yang akan kau tuai

Seakan tak akan pernah ada balasnya

Buat udara ini terasa sesak

Hanya benci yang terserak dan menggelegak…..

 

SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI ANJING …. 4 X

 

ANJING …. !!!!

[http://www.facebook.com/profile.php?id=100001700698819&sk=info#!/note.php?note_id=80414422082&id=1347021461]

Sabtu, 01 Januari 2011

al mukarram kh. said agil siradj

"Sedikit-sedikit teriak Allahu Akbar, Negara Islam. Ini surga, ini neraka. Kalau tidak Negara Islam, maka akan celaka. Pemahaman seperti ini didapat karena belajar Islam terlalu singkat," papar Kang Said (al Mukarram KH. Said Agil Siradj) [http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=26730]

heran, mungkin kalau gituh, yg belajar Islam sepanjang hayat hidupnya cukup mengucapkan "Allahu Akbar, Negara Islam. Ini surga, ini neraka" hanya di dalam hati. maka tidak akan celaka???

konklusinya mungkin beliau akan mengatakan, cukuplah Demokrasi, Pancasila, IMF, PBB, Liberalisme, Pluralisme, Toleransi (tahlilan dan yasinan di gereja), dan tidak perlu Allahu AKbar, NEgara Islam, Hukum Islam, Ekonomi Islam, Syariat Islam itu diperlukan... (beginikah figur sentral NU???)