saya hanyalah manusia biasa, yg banyak dipenuhi oleh salah dan khilaf, oleh karena itu jikalau ada postingan saya yg kurang berkenan di hati saudara pembaca sekalian, mohon dimaafkan lahir bathin, karena kebenaran hanya berasal dari Allah, dan kesalahana sepenuhnya ada diri saya...

Sabtu, 19 Maret 2011

perbincangan tentang tuhan

Siang itu, cuaca cukup bersahabat. Tidak begitu panas, tapi juga tidak begitu dingin dan berangin.
Aku dan dua orang sahabat sedang duduk sambil menikmati makan siang di kantin milik Universitas.
Kedua sahabatku ini bukanlah orang pribumi. Yang seorang (sebut saja si V) berasal dari Vietnam, dan yang seorang lagi (sebut saja si M) berasal dari Maroko.
Awalnya kami berbincang masalah masalah ringan seputar pelajaran, dosen, sampai masalah cari pacar.
Sampai pada suatu titik, aku melakukan suatu kesalahan fatal dengan bertanya pada si V;
"Boleh ku tahu agamamu apa V? Tanyaku sambil masih mengunyah mie goreng panas.
"Aku protestan, tapi tidak percaya kalau tuhan itu ada!" Jawabnya singkat disertai senyum.
Jujur, ini bukanlah pertama kalinya aku mendengar kalau seorang adalah atheis. Tapi rupanya pernyataan si V adalah berita baru bagi si M.
"Mengapa kamu tidak percaya tuhan?" Si M bertanya langsung.
"Mengapa kamu percaya Tuhan?" Si V balik bertanya.
"Karena saya beragama, dan salah satu keharusan seorang yang beragama adalah percaya pada tuhan!"
Si V meletakkan peralatan makan yang digunakannya seraya memandangi si M masih disertai senyum tipis ramah khas- miliknya.
"Kalau begitu saya ralat jawaban saya tadi" Katanya padaku "Saya bukan seorang protestan. Saya atheis, tapi kalian bisa menganggap saya protestan kalau kalian suka"
Kami diam beberapa jurus. Aku dan si V melanjutkan acara makan siang kami, sedang si M masih sedikit berfikir.
"Apa yang menyebabkan kamu memilih menjadi atheis?" Si M bertanya tiba tiba.
"Tidak ada alasan khusus, saya hanya tidak bisa percaya pada sesuatu yang tidak konkret. Tuhan misalnya" jawabnya.
"Tuhan itu ada dan kamu hanya harus percaya bahwa dia itu ada!" Si M berkata. Nada suaranya terdengar bersahabat, tapi aku merasa ada sesuatu pada kata katanya barusan.
"Apa yang membuatmu percaya kalau Dia itu ada?" si V bertanya balik.
"Ada sesuatu yang tidak perlu kau lihat untuk dapat kau percayai kawan!" Si M berkata "Tuhan itu seperti cinta. Tidak dapat kau lihat, tapi dapat kaurasakan dan aku yakin kau tahu bahwa cinta itu ada!"
Si V lagi lagi tersenyum mendengar kata kata si M.
"Cinta itu adalah suatu proses pada otak manusia yang sayangnya aku tak begitu mengerti tentangnya!" Ia mengelap bibirnya dengan tisue "Sedang Tuhan adalah suatu hal yang manusia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan pengetahuan yang tidak dapat mereka ketahui"
"Aku tidak mengerti maksudmu" Si M mengerutkan kaning saat bertanya demikian.
"masudku, banyak sekali hal hal yang tidak bisa manusia buktikan dengan akal, Hantu misalnya" Si V menenggak sedikit minumannya "dan untuk itu mereka butuh sesuatu untuk menjawab masalah itu. Tuhan-lah jawabannya"

Aku terpana mendengar kata kata si V barusan. Bukan karena kekuatan dari tiap suku kata atau keyakinannya pada kekuatan kata katanya, tapi lebih daripada itu. Aku berfikir bahwa "MUNGKIN" ia ada benarnya juga.
Sebenarnya aku tidak ingin mendiskusikan masalah kepercayaan secara terang terangan seperti ini, tapi lambat laun, aku jadi tertarik juga mendengar mereka berdebat.
"Maksudmu, tuhan itu hasil karya manusia?" Akhirnya aku membuka mulutku "-yang manusia gunakan untuk menjawab pertanyaan yang tidak terjawab?"
"ya, itu maksudku" Si V tersenyum padaku.
"manusia selalu mencoba untuk mencari jawaban yang pasti dari setiap permasalahan yang mereka hadapi" Gumamku pada kedua sahabatku " berarti manusia adalah mahkluk yang konkret karena memikirkan jawaban yang tak pasti dari suatu permasalahan yang tak pasti pula!"
"Hm...aku tidak begitu mengerti apa yang baru saja kau katakan kawan, tapi sepertinya masuk akal" Kata si V.
"Berarti tuhan adalah sesuatu yang konkret, karena ia adalah jawaban paling konkret dari sesuatu yang tidak konkret" kataku berapi api
"Maksudmu apa?" Si M bertanya.
"Maksudku, Jawaban yang paling konkret untuk sesuatu yang tidak terjawab adalah sesuatu yang tidak terjawab pula!" Kataku " karena itu, tuhan bukanlah sesuatu yang tidak konkret, malah sebaliknya karena ia adalah jawaban dari sesuatu yang tak terjawab!"
Mereka berdua menatapku dengan pandangan bertanya.
"Aku tak begitu mengerti maksudmu kawan, tapi tadi itu terdengar cukup masuk akal" Si M berkomentar.
"kurasa kita memang butuh jawaban tidak jelas untuk pertanyaan tak jelas macam itu kan?" Si V mengacak acak rambutku.
Kami mencoba mengganti tema pembicaraan.
Buatku, jawaban yang baru saja kuutarakan pada kedua sahabatku tadi memberiku suatu pertanyaan lagi.
Tapi kurasa hari ini sudah cukup kami membahas satu pertanyaan tanpa jawaban. Aku tak ingin menambahnya jadi dua pertanyaan tak terjawab.

Senin, 14 Maret 2011

membaca pikiran tuhan

Atheis : Pada suatu saat, tuhan-tuhan digunakan sebagai penjelasan bagi segala bentuk fenomena fisik semacam angina, hujan, dan gerak planet. Begitu sains mengalami kemajuan, maka agen-agen supranatural ditemukan tak berguna lagi sebagai penjelasan untuk kejadian-kejadian alamiah. Mengapa anda menegaskan keikutsertaan Tuhan untuk menjelaskan dentuman besar?

Theis : Sains yang anda miliki tak dapat menjelaskan segala sesuatu. Dunia penuh dengan misteri. Umpamanya, ahli-ahli biologi yang paling optimistis sekalipun mengakui bahwa mereka dibingungkan oleh asal-usul kehidupan.

Atheis : Saya sepakat bahwa sains belum menjelaskan segala sesuatu, tetapi itu tidak berarti ia tidak dapat. Para penganut theisme senantiasa tergoda untuk memanfaatkan proses apapun yang sains tak dapat menjelaskannya pada waktu itu dan mengklaim bahwa tuhan masih diperlukan untuk menjelaskannya. Lalu, begitu sains mengalami kemajuan, tuhan pun ditekan keluar. Anda harus mengambil pelajaran bahwa "Tuhan pengisi celah" ( god of the gaps) bukanlah hipotesis yang dapat dipercaya. Begitu waktu berlanjut, kian lama kian sedikit celah-celah yang tersisa untuk didiami-Nya. Secara pribadi, saya tidak melihat ada persoalan dalam sains untuk menjelaskan seluruh fenomena alamiah, termasuk asal-usul kehidupan. Saya mengakui bahwa asal-usul alam semesta merupakan sebiji kacang yang terlalu keas untuk dipecahkan. Tetapi jika, sebagaimana ta,paknya, kita saat ini telah mencapai tahap dimana satu-satunya celah yang tertinggal adalah dentuman besar (big bang). Maka mengikutsertakan konsep tentang wujud supranatural yang telah dipecat dari segala yang lain, dalam kapasitas "selokan pamungkas" semacam ini, menjadi sangat tidak memuaskan.

Theis : Saya tidak mengerti mengapa. Sekalipun anda menolak ide bahwa Tuhan dapat bertindak langsung dalam dunia fisik, sekali ia telah diciptakan, persoalan tentang asal usul terakhir dunia itu berada dalam kategori yang sama sekali berbeda dari persoalan menjelaskan fenomena-fenomena alamiah segera sesudah dunia eksis.

Atheis : Tetapi anda tidak memiliki alasan lain untuk mempercayai eksistensi tuhan, maka sekedar menyatakan "Tuhan menciptakan alam semesta" menjadi sepenuhnya ad hoc. Ia sama sekali bukan penjelasan. Sebenarnya, statement tersebut secara esensial hampa makna, karena anda sekedar mendefinisikan Tuhan sebagai agen yang menciptakan alam semesta. Pemahaman saya tidak berkembang lebih jauh dengan perlengkapan ini. Satu misteri (asal usul alam semesta) dijelaskan hanya dari sisi pandang yang lain (Tuhan). Sebagai seorang ilmuwan saya tertarik kepada pisau cukur Occam, yang kemudian mendiktekan bahwa hipotesis Tuhan ditolak sebagai sebuah komplikasi yang tidak diperlukan. Betapa pun juga, saya terdorong untuk bertanya, apa yang menciptakan Tuhan?

Theis : Tuhan tidak memerlukan pencipta. Dia adalah satu wujud niscaya - dia mesti eksis. Tidak ada pilihan dalam masalah ini.

Atheis : Tetapi orang mungkin juga menegaskan bahwa alam semesta tidak membutuhkan pencipta. Logika apapun untuk menjustifikasi eksistensi niscaya tuhan dapat sama-sama baik, dan dengan simplisitas yang mengandung manfaat, diterapkan pada alam semesta.

Theis : Tentu saja ilmuwan sering mengikuti penalaran yang sama seperti yang saya miliki. Mengapa sebuah benda jatuh? Karena gaya berat bekerja pada benda itu. Mengapa gaya berat bekerja padanya? Karena ada medan gravitasi. Mengapa? Karena ruang-waktu melengkung. Dan seterusnya. Anda sedang menggantikan satu deskripsi dengan deskripsi lain, yang lebih mendalam, yang tujuannya sekedar untuk menjelaskan sesuatu yang anda mulai, yaitu benda-benda yang jatuh. Mengapa anda kemudian keberatan ketika saya melibatkan Tuhan sebagai penjelasan yang lebih mendalam dan lebih memuaskan tentang alam semesta?

Atheis : Ah, tetapi itu berbeda! Sebuah teori ilmiah harus berarti lebih dari sekedar fakta-fakta yang sedang diupayakan untuk dijelaskan. Teori-teori yang baik memberikan sebuah gambaran yang menyederhanakan tentang alam dengan membangun pertautan-pertautan antara fenomena-fenomena yang terputus sampai sekarang ini. Teori gravitasi Newton, umpamanya, membuktikan sebuah pertautan antara gelombang lautan dan gerak bulan. Di samping itu, teori-teori yang baik menyarankan pengujian-pengujian observasional, semacam memprediksi adanya fenomena-fenomena baru. Mereka juga menyediakan gambaran-gambaran mekanistik terinci tentang bagaimana persisnya proses-proses perhatian fisik terjadi dari sisi pandang konsep-konsep dalam teori itu. Dalam kasus gravitasi, ini melalui serangkaian persamaan yang mempertautkan kekuatan medan gravitasi dengan hakikat sumber-sumber pengendapan. Teori ini memberi anda mekanisme yang cermat tentang bagaimana benda-benda bekerja. Sebaliknya, satu Tuhan yang diikutsertakan hanya untuk menjelaskan big bang gagal menurut kriteria secara keseluruhan. Jauh dari menyederhanakan pandangan kita tentang dunia, Sang Pencipta itu sendiri memperkenalkan sisi tambahan yang menyulitkan. Kedua, tidak ada cara dengan mana kita dapat menguji hipotesis secara eksperimental. Hanya ada satu tempat dimana Tuhan semacam itu termanifestasikan, yaitu Big Bang, itu pun berakhir dan telah matang. Akhirnya perwujudan bulat "Tuhan menciptakan alam semesta" gagal menyediakan penjelasan riil apapun kecuali jika ia disertai sebuah mekanisme terinci. Umpamanya, orang ingin mengetahui perlengkapan-perlengkapan apa untuk menunjukkan Tuhan ini, dan bagaimana persisnya Dia bergerak di sekitar penciptaan alam semesta, mengapa alam semesta memiliki bentuk seperti adanya, dan seterusnya. Singkatnya, kecuali jika anda dapat menyediakan bukti dengan cara tertentu yang lain bahwa Tuhan semacam itu ada, atau selain itu dapat memberikan sebuah gambaran terinci tentang bagaimana Dia membuat alam semesta yang orang atheis semacam saya sekalipun akan menghargainya lebih mendalam, lebih sederhana, dan lebih memuaskan, saya tidak melihat alasan untuk mempercayai wujud semacam itu.

Theis : Meskipun begitu, posisi anda sendiri sangat tidak memuaskan, karena anda mengakui bahwa alasan untuk big bang terletak di luar lingkup sains. Anda terpaksa menerima asal-usul alam semesta sebagai sebuah fakta kasar, tanpa level penjelasan yang lebih dalam.

Atheis : Saya agak lebih menerima eksistensi alam semesta sebagai sebuah fakta kasar ketimbang menerima tuhan sebagai sebuah fakta kasar. Bagaimanapun juga, harus ada satu alam semesta bagi kita, untuk berada di sini guna berargumentasi tentang benda-benda ini!

(dikutip dari buku Membaca Pikiran Tuhan, karya Paul Davies, halaman 74-79)

ngakak ember...

saya mau ngakak rasanya, kenapa? hahaha... setelah kejadian gempa bumi 8,9 sr yg menyebabkan tsunami menyapu kota besar setelah tokyo (kota miyagi dll) itu, ternyata masih saja ada penggemar miyabi yg menanyakan kabarnya.

betapa tidak saya ngakak, saat rakyat indonesia yg --katanya-- merasakan beban BBM yg kacau pengelolaannya itu oleh pemerintah, ternyata alam bawah sadar penggemar miyabi masih tidak bisa hilang dari ingatan.

coba bandingkan dgn kasus Ust. Abu Bakar Ba'asyir yg diseret dgn tuduhan dugaan terorisme, tidak ada satupun headline berita yg menanyakan kabar beliau, sekedar "say hello..." atau bagaimana umur setua itu masih saja di keroyok oleh hakim-hakim yg tidak tau malu!!

okelah, kalau dianggap saya berlebihan membandingkan kedua pihak di atas itu. tetapi seenggaknya rasa senasib sepenanggungan sebagai orang yg sama2 tinggal di tanah air indonesia agaknya lebih mendahulukan warga negara sendiri, dibanding warga negara lain --yg imbas perbuatan justru membuat sengsara remaja di indonesia.

hahaha... tunggu sebentar, saya mau ngakak lagi....

ehem, baiklah, sekedar informasi saja, Ust ABB menurut informasi yg ada sidang hari diwarnai oleh walk out oleh Ust ABB beserta tim pengacaranya, karena menolak kehadiran saksi secara teleconference, terang aja mana ada yg bisa di katakan valid bila kesaksiannya seperti itu.

apalagi bila itu memberatkan Ust ABB, wajar bila pendukung Ust ABB berteriak lantang "teleconference bohong!!" apa pun itu, kesaksian secara teleconference memang tidak di benarkan bila itu untuk memberatkan terdakwa.

inilah runyamnya sistem ala borjuis yg tidak berpihak kpd rakyat bawah yg termarjinalkan. utk sekedar membela orang yg masih "diduga" saja susahnya minta ampun, apalagi bila di dalamnya ada kepentingan yg memberatkan.

inilah negeriku, negeri kaum terlaknat yg tidak pernah memperhatikan para Ustadz yg salih, yg tidak pernah memperhatikan rakyat jelata yg tinggal di gerobak, yg tidak pernah memperhatikan aspirasi umat islam yg sedang di tindas oleh penjajah --yg katanya-- sahabat itu. []

Jumat, 11 Maret 2011

earthquake & tsunami

copas from komunitas ateis indonesia
2004 earthquake & tsunami
>religious people
>burqa, burqa everywhere
>mediocre technology
...>220,000 death toll (it's over 9000!)

2011 earthquake & tsunami
>non-religious people
>porn, porn everywhere
>beyond-awesome technology
>less than 100 death toll so far

Shit should tell you about something!
- D.A.
• Caelist •
----------------------------------------------------------------------------------
data di atas tidak ada yg istimewa, mgkn komunitas ateis indonesia hendak memberikan fakta bahwa ternyata manusia yg gemar alkohol, sex party, dgn tingkat kemajuan teknologi di atas negara lain mengalami musibah dgn korban yg sangat sedikit (jepang kurang dari 100 jiwa) di banding aceh (220ribu jiwa) dgn julukannya serambi mekkah.
menurut pendapat saya, tidak ada yg istimewa dari data di atas. ada atau tidak ada musibah sekali pun, manusia tetaplah ada yg teis dan ada yg ateis, sekali pun --mungkin-- Allah cinta dan murka kepada dua pihak itu.
dan ada musibah menunjukkan sebenarnya, Allah hendak memberikan kasih sayangnya --sekali pun itu musibah semacam gempa dan tsunami-- karena tidak ada yg tidak baik bagi muslim, walau pun seorang muslim (teis) mendapat musibah maka itu baik bagi dirinya jika dihadapi dgn sabar dan tawakal, dan bila muslim (teis) mendapat kebahagiaan di dlm hidupnya maka itu pun baik bagi dirinya jika di hadapi dgn syukur dan tawadhu thdp keadaan.
lalu, bagaimana dgn ateis? kecenderungan manusia (yg tdk mengenal islam) lebih kepada yg enak dan menyenangkan bagi dirinya, maka jika mendapatkan musibah --semacam gempa & tsunami-- itu dianggap sebagai kiamat atau bisa jadi hidupnya sedang sial pd hari itu.
alhasil, ada atau tidak ada musibah, hidup seorang teis tetaplah apa adanya, tapi tidak juga mengalir seperti air. akan tetapi ke-tawakal-an & ikhtiar hidupnya selalu dijaga hingga apa pun yg di hadapinya akan dapat dilalui dgn hanya bergantung kepada Allah Swt saja, tidak yg lain. 
ya Allah.. ya Rabb, segala puja dan puji hanyalah milik-Mu saja. []