saya hanyalah manusia biasa, yg banyak dipenuhi oleh salah dan khilaf, oleh karena itu jikalau ada postingan saya yg kurang berkenan di hati saudara pembaca sekalian, mohon dimaafkan lahir bathin, karena kebenaran hanya berasal dari Allah, dan kesalahana sepenuhnya ada diri saya...

Sabtu, 22 Oktober 2011

kenapa kalian beragama?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTEylJzvTeQoCOgLD24xP5fpFCyhElDE43tnPrCOkICiYPSSIyncEMO2Y9RfkgM1NiQ1u-xTiM4pD-vs-9LJFcJ0QUlvxp9_UeziXz8sQzZKSoRIPQxdOSuquRIh6xJjgzlkCpVnVNV5VI/s1600/1.2.2.3.gifSaya sendiri pernah, belajar agama Islam 87,5% + Kristen 4% + Hindu 5% + Budha 3% + Yahudi 0,2% + Wiwitan 0,3%, orang tua saya sendiri muslim, bahkan di antara kami ada orang tuanya sebagai guru ngaji.
----------------------------------------------------------------------
luar biasa, penguasaan beliau ttg agama2 dunia bisa di ukur sekian persen... tapi sayang ujung2nya tanpa agama (atheis)


=============================================== 
perang berlatar agama hingga saat ini terus berjalan. Apa kamu menyayangkan kalau perang berlatar agama itu berhenti?
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
maklum memang, kita bisa mengambil contoh para meneer-meneer portugis dulu yg datang ke indonesia yg "katanya" memiiliki misi Gold (ekonomi), Glory (kekuasaan/politik) dan Gospel (penyebaran agama), seringkali kali kita terkecoh bahwa datangnya para meneer itu di dominasi oleh semangat Gospel (penyebaran agama), tapi apakah beliau lupa ada yg lebih penting dari itu adalah masalah perut (ekonomi/Gold) dan lebih dari itu adalah Glory, dimana ambisi politik menjajah bangsa lain sudah sangat akut (membantai penduduk mengatasnamakan agama?)

http://grafisosial.files.wordpress.com/2008/06/urusan-agama.jpg
sepertinya kita harus fair dalam bersikap, dan sayang sekali bila beliau hanya mengambil irisan 1/3 sembari melupakan 2/3 lainnya. bahkan 1/3 itu di cap sebagai barang yg harus di jauhi, barang yg harus dibuang dan tidak pantas di pakai lagi?


bila beliau ingin fair, seharusnya akan ada Komunitas Apolitik Indonesia (komunitas antipolitik), atau akan keluar aktivis Komunitas Aekonomi Indonesia (komunitas antiekonomi), yg sekali lagi dilatarbelakangi oleh ke-trauma-an dalam menyikapi tingkah polah manusia dlm berperikehidupan dan berkemanusiaan.


dan lucu sekali seandainya ada Komunitas Aekonomi INdonesia, bagaimana seandainya mereka ingin bertransaksi? membeli lauk pauk di warung misalkan (karena itu termasuk dalam prosedur ekonomi) apakah mereka akan menjadi maling dan perampok semua?
sayang sekali... ckckckck
[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar